Sabtu, 03 November 2012

PENGARUH AGAMA DALAM KEHIDUPAN



PENGERTIAN  PERANAN DAN AGAMA
Peranan berasal dari kata peran. Peran memiliki makna yaitu seperangkat tingkat diharapkan yang dimiliki oleh yang berkedudukan di masyarakat. Sedangkan peranan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilksanakan.

Fungsi Agama bagi Kehidupan

Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah :
  • Karena agama merupakan sumber moral
  • Karena agama merupakan petunjuk kebenaran
  • Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
  • Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka.
Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui apa-apa sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit di antara mereka yang mensyukurinya.
Dalam keadaan yang demikian itu, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macam godaan dan rayuan, baik dari dalam, maupun dari luar dirinya. Godaan dan rayuan daridalam diri manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu
  • Godaan dan rayuan yang berysaha menarik manusia ke dalam lingkungan kebaikan, yang menurut istilah Al-Gazali dalam bukunya ihya ulumuddin disebut dengan malak Al-hidayah yaitu kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada hidayah ataukebaikan.
  • Godaan dan rayuan yang berusaha memperdayakan manusia kepada kejahatan,yang menurut istilah Al-Gazali dinamakan malak al-ghiwayah, yakni kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada kejahatan
Disinilah letak fungsi agama dalam kehidupan manusia, yaitu membimbing manusia kejalan yang baik dan menghindarkan manusia dari kejahatan atau kemungkaran.

Fungsi Agama Kepada Manusia
Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang dihuraikan di bawah:
- Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.
Agama dikatankan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya memberi penerangan mengenai dunia(sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWTdan setiap manusia harus menaati Allah SWT
-Menjawab pelbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.
Sesetangah soalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat  menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, agama itulah berfungsi untuk menjawab soalan-soalan ini.
- Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan sahaja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.
– Memainkan fungsi kawanan sosial.
Kebanyakan agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi kawanan sosial
Fungsi Sosial Agama
Secara sosiologis, pengaruh agama bisa dilihat dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat positif atau pengaruh yang menyatukan (integrative factor) dan pengaruh yang bersifat negatif atau pengaruh yang bersifat destruktif dan memecah-belah (desintegrative factor).
Pembahasan tentang fungsi agama disini akan dibatasi pada dua hal yaitu agama sebagai faktor integratif dan sekaligus disintegratif bagi masyarakat.
Fungsi Integratif Agama
Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama dalam menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan sehingga agama menjamin adanya konsensus dalam masyarakat.
Fungsi Disintegratif Agama.
Meskipun agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan memelihara eksistensi suatu masyarakat, pada saat yang sama agama juga dapat memainkan peranan sebagai kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkan eksistensi suatu masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya agama dalam mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkan menyalahkan eksistensi pemeluk agama lain
Tujuan Agama
Salah satu tujuan agama adalah membentuk jiwa nya ber-budipekerti dengan adab yang sempurna baik dengan tuhan-nya maupun lingkungan masyarakat.semua agama sudah sangat sempurna dikarnakan dapat menuntun umat-nya bersikap dengan baik dan benar serta dibenarkan. keburukan cara ber-sikap dan penyampaian si pemeluk agama dikarnakan ketidakpahaman tujuan daripada agama-nya. memburukan serta membandingkan agama satu dengan yang lain adalah cerminan kebodohan si pemeluk agama
Beberapa tujuan agama yaitu :
  • Menegakan kepercayaan manusia hanya kepada Allah,Tuhan Yang Maha Esa (tahuit).
  • Mengatur kehidupan manusia di dunia,agar kehidupan teratur dengan  baik, sehingga dapat mencapai kesejahterahan hidup, lahir dan batin, dunia dan akhirat.
  • Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah.
  • Menyempurnakan akhlak manusia.
Menurut para peletak dasar ilmu sosial seperti Max Weber, Erich Fromm, dan Peter L Berger, agama merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bagi umumnya agamawan, agama merupakan aspek yang paling besar pengaruhnya –bahkan sampai pada aspek yang terdalam (seperti kalbu, ruang batin)– dalam kehidupan kemanusiaan.
Masalahnya, di balik keyakinan para agamawan ini, mengintai kepentingan para politisi. Mereka yang mabuk kekuasaan akan melihat dengan jeli dan tidak akan menyia-nyiakan sisi potensial dari agama ini. Maka, tak ayal agama kemudian dijadikan sebagai komoditas yang sangat potensial untuk merebut kekuasaan.
Yang lebih sial lagi, di antara elite agama (terutama Islam dan Kristen yang ekspansionis), banyak di antaranya yang berambisi ingin mendakwahkan atau menebarkan misi (baca, mengekspansi) seluas-luasnya keyakinan agama yang dipeluknya. Dan, para elite agama ini pun tentunya sangat jeli dan tidak akan menyia-nyiakan peran signifikan dari negara sebagaimana yang dikatakan Hobbes di atas. Maka, kloplah, politisasi agama menjadi proyek kerja sama antara politisi yang mabuk kekuasaan dengan para elite agama yang juga mabuk ekspansi keyakinan.
Namun, perlu dicatat, dalam proyek “kerja sama” ini tentunya para politisi jauh lebih lihai dibandingkan elite agama. Dengan retorikanya yang memabukkan, mereka tampil (seolah-olah) menjadi elite yang sangat relijius yang mengupayakan penyebaran dakwah (misi agama) melalui jalur politik. Padahal sangat jelas, yang terjadi sebenarnya adalah politisasi agama.
Di tangan penguasa atau politisi yang ambisius, agama yang lahir untuk membimbing ke jalan yang benar disalahfungsikan menjadi alat legitimasi kekuasaan; agama yang mestinya bisa mempersatukan umat malah dijadikan alat untuk mengkotak-kotakkan umat, atau bahkan dijadikan dalil untuk memvonis pihak-pihak yang tidak sejalan sebagai kafir, sesat, dan tuduhan jahat lainnya.
Menurut saya, disfungsi atau penyalahgunaan fungsi agama inilah yang seyogianya diperhatikan oleh segenap ulama, baik yang ada di organisasi-organisasi Islam semacam MUI. Ulama harus mempu mengembalikan fungsi agama karena Agama bukan benda yang harus dimiliki, melainkan nilai yang melekat dalam hati.
Mengapa kita sering takut kehilangan agama, karena agama kita miliki, bukan kita internalisasi dalam hati. Agama tidak berfungsi karena lepas dari ruang batinnya yang hakiki, yakni hati (kalbu). Itulah sebab, mengapa Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa segala tingkah laku manusia merupakan pantulan hatinya. Bila hati sudah rusak, rusak pula kehidupan manusia. Hati yang rusak adalah yang lepas dari agama. Dengan kata lain, hanya agama yang diletakkan di relung hati yang bisa diobjektifikasi, memancarkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, kita lebih suka meletakkan agama di arena yang lain: di panggung atau di kibaran bendera, bukan di relung hati
Fungsi pertama agama, ialah mendefinisikan siapakah saya dan siapakah Tuhan, serta bagaimanakah saya berhubung dengan Tuhan itu. Bagi Muslim, dimensi ini dinamakan sebagai hablun minaLlah dan ia merupakah skop manusia meneliti dan mengkaji kesahihan kepercayaannya dalam menghuraikan persoalan diri dan Tuhan yang saya sebutkan tadi. Perbincangan tentang fungsi pertama ini berkisar tentang Ketuhanan, Kenabian, Kesahihan Risalah dan sebagainya.
Kategori pertama ini, adalah daerah yang tidak terlibat di dalam dialog antara agama. Pluralisma agama yang disebut beberapa kali oleh satu dua penceramah, TIDAK bermaksud menyamaratakan semua agama dalam konteks ini. Mana mungkin penyama rataan dibuat sedangkan sesiapa sahaja tahu bahawa asas agama malah sejarahnya begitu berbeza. Tidak mungkin semua agama itu sama!
Manakala fungsi kedua bagi agama ialah mendefinisikan siapakah saya dalam konteks interpersonal iaitu bagaimanakah saya berhubung dengan manusia. Bagi pembaca Muslim, kategori ini saya rujukkan ia sebagai hablun minannaas.
Ketika Allah SWT menurunkan ayat al-Quran yang memerintahkan manusia agar saling kenal mengenal (Al-Hujurat 49: 13), perbezaan yang berlaku di antara manusia bukan sahaja meliputi perbezaan kaum, malah agama dan kepercayaan. Fenomena berbilang agama adalah seiring dengan perkembangan manusia yang berbilang bangsa itu semenjak sekian lama.
Maka manusia dituntut agar belajar untuk menjadikan perbedaan itu sebagai medan kenal mengenal, dan bukannya gelanggang krisis dan perbalahan.
Untuk seorang manusia berkenalan dan seterusnya bekerjasama di antara satu sama lain, mereka memerlukan beberapa perkara yang boleh dikongsi bersama untuk menghasilkan persefahaman. Maka di sinilah, dialog antara agama (Interfaith Dialogue) mengambil tempat. Dialog antara agama bertujuan untuk menerokai beberapa persamaan yang ada di antara agama. Dan persamaan itu banyak ditemui di peringkat etika dan nilai.


Peranan agama dalam kehidupan sosial masyarakat

Agama adalah suatu prinsip atau kepercayaan seseorang. Agama merupkan suatu peranan yang sangat penting dalam kehidupan sosial suatu masayarakat. Agama juga yang dapat memberikan rasa toleransi, solidaritas dalam masyarakat pada umumnya. Karena agama mempunyai nilai sosial yang baik untuk seluruh masyarakat agar dapat saling menghargai dan membantu walapun di Indonesia ini memiliki beragam suku, adat istiadat, agama yang berbeda-beda. Ciri suatu negara yang memiliki nilai sosial yang tinggi adalah dapat saling membantu satu sama lain terutama dikalangan masyarakat sekitar. Dengan kerpercayaan masing-masing kita dapat memberikan rasa saling menghargai dan membantu antar masyarakatsatu dengan yang lain.di samping itu kebebasan agama juga tercantum dalam uud 1945 yaitu tentang masyarakat bebas memilih agama mereka sesuai dengan kepercayaan masing-masing,untuk itu kita sebagai warga Negara yang baik haruslah saling bertoleransi antar umat beragama agar Negara ini selalu rukun dan damai.

Peran Agama Dalam Kehidupan Generasi Muda
Kebutuhan kita akan agama dan pendidikan keagamaan muncul sebagai kebutuhan yang mutlak dan tak tergantikan. Untuk memperdalam hal itu maka kita harus mengetahui definisi agama. Agama merupakan suatu kepercayaan atau keyakinan yang bisa memberikan arahan hidup yang diterapkan oleh semua manusia sebagai prinsip-prinsip moral yang berkualitas tinggi dan penerapan hubungan yang baik antar anggota masyarakat. Dari definisi tersebut pada dasarnya Agama Islam merupakan gerakan universal yang diarahkan atau diberi petunjuk oleh cahaya keimanan kepada Allah SWT dan suatu arahan yang bertanggung jawab untuk tujuan perubahan cara berfikir dalam berkepercayaan. Siapapun orangnya rakyat biasa atau pembesar dan apapun agamanya, jika dalam kesehariannya tidak dibatasi dengan adanya aturan maka hidupnya bagaikan kapas yang tertiup angin, dalam arti hidupnya tidak mempunyai arahan yang jelas. Oleh karena itu agama mempunyai fungsi dan peran dalam kehidupan, diantaranya:
1.Suatu sanksi untuk prinsip moral
2.Suatu kekuatan untuk mengeraskan semangat menghadapi kehidupan
3.Menghadapi kekosongan idiologi
4.Bantuan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan
5.Melawan diskriminasi
Agama selain memiliki fungsi dan peran dalam kehidupan juga memiliki nilai-nilai agama yang dapat dijadikan landasan atau arahan dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan menerapkan pada diri kita nilai keadilan, persaudaraan, persamaan, toleransi dan pengorbanan. Oleh karena itu para remaja diharuskan untuk membekali dirinya dengan nilai-nilai tersebut. Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai oleh adanya kematangan seksual dan keadaan relatif mandiri. Tetapi remaja seringkali belum mampu untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan pengendalian emosi secara maksimal, sehingga remaja terjerumus ke dalam kenakalan remaja. Rendahnya kemampuan remaja dalam pengendalian emosi disebabkan oleh tidak dijalankannnya nilai-nilai ajaran agama dengan baik. Untuk mencegah hal-hal tersebut mereka harus mempunyai kriteria-kriteria remaja muslim, diantaranya :
1.Memiliki aqidah yang bersih
2.Selalu menjalankan ibadah yang benar
3.Memiliki akhlaq yang kukuh dan mulia
4.Cerdas dalam berfikir
5.Pandai mengatur waktu
6.Dapat berjuang melawan hawa nafsu
7.Mampu menyelesaikan masalah
8.Bermanfaat bagi orang lain
Setiap pemuda memiliki peran dalam upaya penegakan dakwah dan hukum-hukum islam. Tapi tugas ini sering terlupakan oleh sebagian remaja islam karena disibukkan dengan berbagai hal yang secara tidak sadar meracuni pemikiran pemuda islam. Dalam islam, masa remaja adalah saat-saat yang paling menentukan dalam sejarah hidup seseorang. Disanalah manusia mulai membentuk jatidiri, akankah ia menempuh jalannya orang-orang yang selamat ataukah berbalik menempuh jalannya orang-orang celaka. Maka sangat ditekankan para remaja untuk membekali dirinya dengan akhlaq yang mulia. Manusia akan hidup bahagia baik didunia maupun akhirat karena memiliki akhlaq yang mulia. Remaja dalam kehidupan memiliki peran serta yang penting dilingkungan keluarga, masyarakat maupun bangsa. Setiap remaja memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki kepribadian, memperbaiki segala bentuk kekurangan diri dan menyampaikan hal-hal kebaikan kepada orang terdekat yaitu keluarga. Selain itu, remaja harus pro-aktif dalam kegiatan sosial. Mereka harus mampu mempunyai ide-ide baru untuk perbaikan sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sebab merekalah yang kelak akan menjadi generasi pengganti saat ini.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa remaja pada dasarnya adalah suatu perkembangan fisik dan psikis pada manusia yang saling berkesinambungan. Akan tetapi dalam perkembangan agamanya remaja belum dapat mengaplikasikan ajaran agama secara mendalam dan mantap. Faktor yang mempengaruhi perkembangan keberagamaan pada remaja masih dipengaruhi dengan lingkungan sekitar dan kepribadian dari masing-masing individu, karena kepribadian berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan yang bilamana remaja memiliki kepribadian yang baik mereka tidak akan menyimpang dari aturan-aturan agama.
Untuk membentuk kepribadian remaja muslim yang baik peran dari keluarga sangat mempengaruhi kehidupan setiap remaja akan pentingnya agama. Dalam ajaran islam, perdamaian sangat diutamakan untuk memupuk rasa persaudaraan, apalagi dikalangan remaja tidak akan mengenal perbedaan-perbedaan seperti ras, suku dan lai-lainnya, dan dapat dijadikan suatu faktor dalam pembentukan kelompok manusia.



Pengaruh agama dalam kehidupan sehari-hari

Besarnya peran agama dalam kehidupan sehari-hari memegang peran yang sangat penting. Dalam kehidupan di dunia ini harus terjadi keseimbangan antara spiritualitas dan aktivitas. Jika Spiritualitas yang terlalu besar, maka kehidupan dalam unsur materi (harta) akan kekurangan. Sebaliknya, jika aktivitas yang kita utamakan tanpa memperhatikan spiritualitas (agama) maka batin kita akan kekurangan makanan, dalam arti hati kita tidak akan tenang walaupun materi (harta) kita berlimpah.

            Besarnya iman pun sangat berpengaruh dalam sikap kita menjalani kehidupan sehari-hari. Jika iman kita kuat, maka akan dimudahkan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Akan diberikan kesabaran dalam menghadapi masalah ataupun cobaan yang melanda. Dengan keimanan yang tebal, hati kita akan tenang dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan dijauhkan dari perbuatan yang keji dan munkar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar